AS Roma 4-0 Istanbul Basaksehir: Meski Menang Besar, Roma Bermain Buruk!

nicolo-zaniolo-as-roma-vs-istanbul-basaksehir

Romanisti jangan terlalu gembira dengan kemenangan besar ini. Ya, karena AS Roma bermain dengan buruk dan tidak greget sampai menjelang akhir babak pertama.

Paulo Fonseca membuat beberapa perubahan line-up pemain pada laga Liga Eropa 2019/2020 melawan Istanbul Basaksehir dibandingkan skuad yang menghempaskan Sassuolo 4-2 minggu lalu:

Jika pembaca melewatkan laga ini karena ketiduran atau tidak cukup sehat untuk begadang (sayang sekali!), berikut ini adalah highlight pertandingan AS Roma vs Istanbul Basaksehir 4-0:

Hingga sekitar 40 menit sejak kick-off ditiupkan wasit, para pemain Giallorossi terlihat bermain dengan kurang greget, malas berlari, dan malas melakukan pressing. Padahal kunci sukses formasi Fonseca adalah pressing totalitas tim pada para pemain lawan.

Di sisi pertahanan, beberapa kali Juan Jesus terlihat bermain dengan gugup, namun beberapa kali juga Jesus & Fazio berhasil melakukan blocking yang cukup baik.

Pada menit ke-32, Pau Lopez keluar kandang untuk menghadapi one-on-one dengan striker lawan yang berhasil melewati kawalan bek Roma: hasil dari lambatnya lari dan buruknya insting positioning dari duet bek tengah Fazio-Jesus.

Untung saja tidak terjadi gol, karena posisi striker Basaksehir sangat ideal untuk melakukan shooting, seandainya Pau tidak berhasil melakukan clearance dengan maju keluar kotak penalti untuk meninju bola, maka bisa dipastikan mental pemain Giallorossi akan ambruk.

Pau Lopez terlihat lebih baik dibandingkan kiper Roma musim lalu, Robin Olsen yang seakan kakinya terpaku di bawah mistar gawang dan takut untuk maju menghadang bola.

Seperti yang saya prediksi (baca artikel ANTIK vs Sassuolo di sini), terlihat bahwa duet gelandang Bryan Cristante-Amadou Diawara kurang begitu mobile dan kurang greget. Seperti yang sudah diopinikan oleh saya, seharusnya Jordan Veretout yang bertenaga kuda dan bermain ngotot selalu dimainkan sebagai gelandang kunci, karena Cristante tidak akan bermain baik apabila dipasangkan dengan gelandang yang kurang mobile.

Sementara itu, Cristante dan Diawara bisa saling melakukan rotasi karena memiliki karakteristik yang hampir sama.

Pada sektor penyerangan, Javier Pastore masih bermain agak ceroboh, dengan beberapa kali salah passing dan ketika berkesempatan memegang bola, berhasil direbut atau diintersepsi oleh bek lawan. Bek sayap kanan (Caicara) dan kiri (Clichy) memang bermain baik dan berhasil mematikan pergerakan winger Roma: Zaniolo, Kluivert & Pastore.

Pada babak pertama, praktis AS Roma hanya memiliki peluang bagus hasil dari shooting yang dilakukan Pastore.

Di pos bek sayap, Spinazzola beberapa kali berhasil memegang bola hingga sepertiga lapangan lawan, namun anehnya dia selalu mengirim crossing pada Kluivert yang berbadan kecil dibandingkan Dzeko sang target-man (mungkin Spinazzola adalah seorang pemain anti-mainstream?).

Spinazzola beberapa kali sering salah kontrol, mungkin karena tidak terbiasa bermain sebagai bek sayap kanan? Dulu Spina memang sangat sering dipasang di sayap kiri, walaupun kaki dominannya adalah kaki kanan.

Baru kali ini di bawah asuhan Fonseca, Spina sering dipasang sebagai bek sayap kanan.

Yang sedikit membingungkan pada laga ini adalah peran Kolarov: apakah dia berposisi sebagai bek tengah, bek sayap, atau libero? Karena Kolarov sama sekali bermain dengan cara yang berbeda.

Pada laga ini, Kolarov sangat jarang melakukan overlapping dan penetrasi, sementara Spinazzola di sisi kananlah yang sering penetrasi ke 16-yard-box lawan.

Hal ini membuat bek tengah Roma seperti berjumlah 3 orang (Fazio-Jesus-Kolarov).

Untungnya, aktifnya pergerakan Spinazzola berbuah gol bunuh diri yang ironisnya dilakukan oleh Caicara: bek sayap kiri Basaksehir yang sebelumnya bermain cukup baik menutup pergerakan winger Roma.

Babak pertama berakhir: 1-0 untuk AS Roma.

Memasuki babak kedua, tepatnya pada menit ke-47, terlihat lagi betapa defense AS Roma kurang terorganisir dan kocar-kacir, padahal serangan Istanbul saat itu tidak sangat berbahaya. Untungnya penyerang Basaksehir salah melakukan touch sehingga bola mendarat di kaki Kolarov dan kondisi kembali aman.

Di menit ke-52, Pau Lopez berusaha melakukan jumping untuk menangkap bola liar yang jatuh dari udara, namun bolanya terlepas dari tangkapannya. Hal ini seingat saya sudah 2x terjadi, sebelumnya mungkin ketika laga melawan Lazio. Apakah Pau memang kurang ahli menangkap bola dari udara?

Pada menit ke-54, gol AS Roma dianulir wasit. Oleh karena posisi Dzeko yang offside. Seandainya pada saat itu, Dzeko tidak bertindak iseng dengan menanduk bola hasil tendangan Zaniolo, seharusnya itu menjadi gol kedua Giallorossi. Namun Dzeko melakukan keputusan yang sedikit egois dan kurang mementingkan tim dengan menyentuh bola itu: berbuah gol yang dianulir.

Menit ke-65, Juan Jesus melakukan hal ceroboh dengan menghantamkan tangannya hingga mengenai hidung striker lawan: dekat di garis kotak penalti! Bek asal Brazil langsung mendapatkan kartu kuning akibat kelalaiannya tersebut. Sepertinya bek tengah berusia 28 tahun ini masih juga belum bermain dengan cukup tenang dan dewasa.

Untungnya dengan runtuhnya mental pemain Basaksehir akibat gol bunuh diri, serta semakin bersemangatnya para fans Roma di dalam stadion untuk bernyanyi dan menyemangati pemain, terciptalah gol kedua, ketiga, dan disusul gol keempat pada menit ke-93:

Gol kedua & gol keempat Roma adalah hasil dari umpan terobosan yang diteruskan dengan dribbling cepat dari para poacher: yaitu terobosan dari Cristante (gol ke-2) untuk Zaniolo (poacher) yang lalu melakukan dribble cepat dan dituntaskan dengan assist untuk Dzeko; serta terobosan dari Zaniolo (gol ke-4) untuk Kluivert (poacher) yang lalu melakukan solo-run dan shooting berbuah gol.

Adapun poacher adalah sebuah peran yang dimainkan oleh striker yang berfungsi selalu mencari celah kosong di antara bek lawan, hampir selalu berada pada posisi sejajar bek lawan (sambil menghindari jebakan offside), serta berlari menjemput umpan terobosan dari para gelandang. Poacher harus memiliki kecepatan agar bisa berlari menjemput umpan dengan baik.

Nikola Kalinic (dan juga Patrik Schick) lebih bertipe poacher karena lebih memanfaatkan kecepatan geraknya dibandingkan kekuatan atau kemampuan headingnya. Sayangnya, Kalinic pun gagal mencetak gol pada menit ke-86 padahal tinggal one-on-one dengan kiper Basaksehir.

Gol ketiga AS Roma adalah buah dari kecerdikan Kluivert mencari ruang kosong di antara bek lawan, membuatnya bebas dari kawalan dan dengan mudah memberi key passing pada Dzeko. Gol ketiga ini adalah kali kedua Kluivert berhasil memanfaatkan ruang kosong, setelah pada kesempatan pertama (pada sekitar menit ke-60an), Kluivert melakukan kesalahan dribbling dan telat melakukan decision-making tepat yang membuat serangannya sia-sia.

Setelah bermain mantap pada laga Serie A melawan Sassuolo, sejujurnya pada laga Liga Eropa kali ini, Kluivert bermain biasa saja: dia tidak sengotot laga sebelumnya untuk melakukan pressing dan ball-tracking hingga area pertahanan AS Roma. Untungnya ada 2 penetrasi Kluivert yang berhasil berkontribusi pada gol.

Para pemain muda yang minim pengalaman sepertinya memang agak sulit meraih konsistensi permainan. Bahkan Zaniolo yang pada laga kali ini bermain sempurna, mungkin tidak akan mengulangi kesempurnaan bermainnya pada laga berikutnya (masih ingat kan bahwa Zaniolo dibangkucadangkan pada laga Serie A teranyar vs Sassuolo?).

Sementara itu, Lorenzo Pellegrini yang masuk menggantikan Javier Pastore berhasil kembali meletupkan beberapa kejeniusan bermainnya, termasuk sebuah key-passing untuk Kalinic yang seharusnya berbuah gol.

Kesimpulan: AS Roma beruntung bisa mendapatkan hadiah gol bunuh diri pemain Basaksehir menjelang babak pertama berakhir setelah crossing Spinazzola (yang tidak jelas mengarah ke mana) membentur bek lawan.

Gol bunuh diri tersebut membuat mental dan kepercayaan diri tim lawan menjadi ambruk – padahal mereka bermain baik pada 40 menit awal, dan telah membuat tim Giallorossi kewalahan sepanjang babak pertama.

Gol-gol maupun peluang emas Giallorossi pada babak kedua adalah hasil dari runtuhnya mental pemain lawan, yang berhasil dimanfaatkan para pemain untuk lebih menguasai permainan.

– Gustaf Ardana


2 thoughts on “AS Roma 4-0 Istanbul Basaksehir: Meski Menang Besar, Roma Bermain Buruk!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s