Bologna 1-2 AS Roma: Gol Telat di Detik-Detik Akhir Laga, Hasil Yang Tidak Adil Bagi Bologna

bologna-vs-as-roma-2019

Serupa musim lalu, lini serang AS Roma (masih) tidak berkutik dan nihil kreativitas apabila menghadapi lawan yang menumpuk pemain di area pertahanannya.

Baca Analisa Pra-Laga (LIBAS) di sini

Hampir seluruh tim papan tengah & papan bawah Serie A, apabila menghadapi AS Roma akan selalu memasang strategi ultra-defensif dengan menumpuk semua pemainnya di area pertahanan, sambil memasang 1 atau 2 striker dengan kemampuan berlari seperti kijang untuk melakukan counter-attack.

Hasilnya, lini serang AS Roma tidak berkutik dan nihil kreativitas yang membuat Giallorossi hampir tidak memiliki peluang emas sama sekali di laga ini.

Jika pembaca kebetulan melewatkan laga ini (ga apa-apa sih karena laga pun berjalan membosankan), berikut ini adalah highlight pertandingan Bologna vs AS Roma 1-2:

Sinisa Mihajlovic, legenda Lazio & allenatore Bologna yang masih terbaring di rumah sakit karena penyakit Leukemia, memberikan pidato penyemangat bagi anak asuhnya dari jarak jauh sebelum Il Rossoblu berlaga melawan AS Roma.

Kita tidak tahu instruksi apa yang diucapkan Mihajlovic untuk timnya, namun sepanjang laga ini, Bologna bermain seakan seluruh pemainnya adalah pemain bertahan: terlihat seolah Bologna tidak memiliki gelandang, dan hanya menyisakan 1 orang pemain di lini depan (Mattia Destro, eks striker Giallorossi).

Skuad yang diplot oleh Fonseca sama persis seperti skuad di giornata ke-3 lalu, sama sekali tidak ada perubahan skuad.

Babak Pertama

Sepanjang babak pertama, hampir tidak ada peluang baik dari kedua kubu.

AS Roma tidak mampu membongkar ketatnya pertahanan Bologna, begitu pun Bologna bermain defensif dengan hanya menyisakan 1-2 striker di depan sehingga mereka pun sulit melakukan counter-attack.

Pada menit ke-10, Alesssandro Florenzi melakukan man-marking yang ceroboh sehingga pemain sayap Bologna bisa melakukan kecohan turn (balik badan sambil membawa bola). Namun sayangnya bola bergerak terlalu liar dan berhasil disapu bersih oleh Mancini.

Kemudian hanya beberapa menit setelahnya, tepatnya pada menit ke-13, Il Capitano pun diberi ganjaran kartu kuning setelah terlambat melakukan sliding-tackle atas pergerakan cepat bek kiri Bologna asal Belanda, Mitchell Dijks.

Selain itu, duet gelandang median (Bryan Cristante-Jordan Veretout) sering salah melakukan short-passing, padahal mereka hanya melakukan umpan pendek dengan jarak 3-4 meter namun seringkali berakhir diintersepsi kaki lawan (apakah mereka gugup?).

Menit ke-23, Federico Fazio melakukan sebuah intersepsi yang mantap dan bersih yang patut diapresiasi, ketika striker Bologna berusaha menggiring bola di dalam kotak penalti, namun berhasil dihadang Fazio dengan sempurna.

Sisa babak pertama berjalan dengan membosankan dan berakhir 0-0.

Babak Kedua

Paulo Fonseca melakukan penggantian pemain di awal babak kedua dengan memasukkan Nicolo Zaniolo menggantikan Justin Kluivert.

Kemungkinan besar Kluivert dijadikan starter laga ini, karena Fonseca tidak mau kehilangan momentum bagus untuk Justin yang selalu mencetak gol pada 2 laga terakhirnya.

Namun seperti yang sudah saya analisa pada artikel LIBAS Bologna di sini dan artikel ANTIK Basaksehir di sini, pada laga Liga Eropa vs Istanbul Basaksehir, Kluivert sebenarnya bermain biasa saja. Hanya saja dia beruntung bahwa 2 tusukannya berhasil dikonversi menjadi gol oleh tim.

Zaniolo justru yang sangat sering menciptakan peluang dan dribel sukses, serta dinobatkan menjadi man-of-the-match pada laga vs Basaksehir, malah tidak dimainkan sejak menit awal.

Selang beberapa menit kemudian setelah Zaniolo masuk, sebuah pelanggaran terjadi persis di depan kotak penalti Bologna.

Kolarov, sang maestro tendangan bebas, mengambil kesempatan tersebut dengan baik, melakukan sebuah tendangan luar biasa yang membuat Łukasz Skorupski (juga eks AS Roma) terpaku di gawangnya.

Menurut saya, itu adalah gol free-kick kedua terindah Kolarov musim ini.

Gol  Kolarov terindah musim ini? Tentu saja free-kicknya kala melawan Athletic Bilbao di laga pra-musim yang sangat indah dan melengkung cantik dari jarak jauh.

Anyway, Bologna 0-1 AS Roma.

Sayangnya keunggulan Il Lupi hanya bertahan 5 menit, setelah Kolarov melanggar pemain lawan di kotak penalti, yang langsung diganjar hadiah penalti bagi Bologna: diselesaikan dengan baik oleh pemain no. 10 Bologna, Nicola Sansone.

Bologna 1-1 AS Roma.

Pada menit ke-59, koordinasi pertahanan AS Roma yang buruk hampir berbuah gol ketika striker Bologna melakukan shooting one-on-one dengan kiper Giallorossi dalam kotak penalti, untungnya Pau Lopez mampu melakukan blocking heroik yang membuat bola melayang ke atas mistar gawang.

Ini mungkin adalah satu-satunya clear-cut-chance (sebuah peluang emas yang seharusnya menjadi gol) di laga ini.

Kemudian pada menit ke-62, lagi-lagi Florenzi melakukan defense yang kurang baik dengan timing tackle yang terlambat sehingga pemain lawan mampu merangsek melewati dia, lalu melakukan crossing yang hampir berbuah gol. Untungnya, serangan lawan dinyatakan offside terlebih dahulu.

Seperti terkena sirep, di babak kedua ini, para pemain AS Roma banyak melepaskan long-ball yang tidak akurat dan sangat buruk, selalu mampu diintersepsi atau pun jatuh di kaki pemain lawan: Lorenzo Pellegrini, Zaniolo, Dzeko, dan Mkhitaryan semuanya pernah melepaskan long-pass gagal.

Pada menit ke-75, Leonardo Spinazzola yang masuk menggantikan Florenzi, berhasil melakukan sebuah kombinasi ciamik dengan Dzeko yang sayangnya, tendangan Batistuta asal Bosnia tersebut melenceng hanya beberapa sentimeter dari gawang lawan.

AS Roma semakin frustasi dan kehilangan akal mengenai cara membongkar pertahanan Bologna.

Puncak rasa frustasinya, Mancini diberi kartu merah oleh wasit setelah tangannya menepis wajah pemain lawan. Kartu merah Mancini (setelah mendapatkan kartu kuning kedua) sepertinya akan memastikan sebuah tempat bagi Chris Smalling pada laga Serie A berikutnya bagi Giallorossi.

Smalling memang masih diistirahatkan oleh Fonseca setelah mengalami cedera minor minggu lalu, agar dirinya bisa fit 100% untuk laga Roma berikutnya.

Wasit memang bersikap sedikit lebay dengan royal memberikan kartu kuning kedua tim (total 9 kartu kuning dan 1 kartu merah). Walaupun wasitnya lebay, namun wasit bersikap sedikit melunak ketika membiarkan pelanggaran pemain Il Rossoblu pada menit ke-87 tidak diganjar kartu kuning, padahal itu adalah pelanggaran aktif di area berbahaya Bologna.

Juan Jesus lalu masuk menggantikan Mkhitaryan untuk menggantikan peran Mancini.

Kemudian pada menit ke-89, berkat ketidakmampuan Juan Jesus menutup pergerakan pemain lawan di sisi kiri kotak penalti, terjadi lagi sebuah crossing yang untung saja berhasil disapu bersih.

Ketika para pemain dan para fans Roma sudah putus asa, dan mulai meninggalkan layar kaca maupun bangku stadion, tiba-tiba keajaiban terjadi di detik terakhir laga: yang dimulai dari solo-run Veretout dari tengah lapangan hingga kotak penalti Bologna, lalu menyodorkan bola kepada Pellegrini, yang memberi crossing pendek bagi Dzeko:

Tepat sebelum Pellegrini mengirimkan crossing, Dzeko tiba-tiba berhenti berlari, dan mengubah arah pergerakannya sehingga membingungkan bek lawan. Hasilnya, sebuah sundulan mudah Dzeko yang tidak terkawal.

Hanya insting striker berpengalaman yang bisa melakukan hal itu.

Seketika seluruh pemain AS Roma dan para tifosi di dalam stadion seolah kesurupan hantu Desa Penari ketika Dzeko merobek gawang Skorupski.

Euforia yang terjadi mengingatkan saya ketika Giallorossi merebut Scudetto tahun 2001 di giornata terakhir, ataupun ketika Giallorossi unggul 3-0 di laga perempat-final Liga Champions vs Barcelona.

Semua berteriak seperti orang kesurupan! Mamma mia!

Dan hal yang paling menyenangkan adalah, menyaksikan para pemain Giallorossi – termasuk para pemain yang sering duduk menghangatkan bangku cadangan – semua merayakan kemenangan ini dengan wajah bahagia dan gembira!

bologna-vs-as-roma-2019

Kesimpulan:

Paulo Fonseca bisa dibilang pelatih berkepala batu.

Ketika dia sudah tahu bahwa taktiknya tidak berjalan dengan baik, dia masih saja keukeuh terus menggunakan taktik 4-2-3-1 serta melakukan penggantian pemain apple-to-apple (pemain pengganti dengan posisi & karakter yang sama dengan pemain yang diganti: Zaniolo > Kluivert; serta Spinazzola > Florenzi).

Sifat kepala batu sang allenatore mengingatkan kita pada kegagalan Eusebio Di Francesco musim lalu, yang pada saat itu pun bersikap keras kepala dengan selalu menggunakan formasi favoritnya, 4-3-3.

Padahal apabila Fonseca mau sedikit melunak, dia mungkin bisa mengubah formasi menjadi 2 striker dengan memasukkan Kalinic menggantikan salah satu antara Veretout atau Cristante, kemudian menarik Pellegrini lebih ke belakang sehingga formasi menjadi 4-4-2 dengan duet Dzeko-Kalinic di ujung tombak.

Perubahan formasi seperti itu tentu akan membingungkan lawan, daripada tetap bersikeras menggunakan formasi 4-2-3-1 yang sudah dipelajari dengan teliti oleh lawan sebelum pertandingan.

Duet Dzeko dan Kalinic patut dicoba mengingat keduanya adalah tipe striker yang berbeda: Dzeko lebih bertipe target-man sedangkan Kalinic bertipe poacher sehingga 2 peran striker tersebut seharusnya bisa saling melengkapi.

Patut diingat juga bahwa formasi 4-4-2 adalah formasi yang legendaris pada medio 1980-an hingga awal tahun 2000-an, serta formasi yang menjadi akar dari formasi sepakbola modern saat ini.

Namun formasi 4-4-2 itu hanyalah contoh saja.

Intinya seharusnya Fonseca melakukan perubahan formasi ketika permainan Giallorossi stuck, dibandingkan ngotot mempertahankan formasi favoritnya yang terbukti tidak ampuh membongkar pertahanan lawan.

Selain itu, memasukkan Diawara menggantikan Pellegrini (yang bermain buruk) ataupun Cristante juga berpotensi akan mengubah permainan mengingat Diawara memiliki kreativitas long-passing yang baik dibandingkan Cristante ataupun Veretout.

Sehingga bola tidak perlu bergulir dari kaki-ke-kaki kemudian mentok oleh pressing ataupun clearance tim lawan yang menumpuk pemain di sepertiga lapangan mereka: Fonseca tinggal meminta Dzeko-Mkhitaryan-Zaniolo untuk selalu berada sejajar bek lawan, kemudian long-ball Diawara dari sisi pertahanan Roma ditambah kecepatan Zaniolo yang akan menyelesaikan sisanya.

Akhir kata, gol Dzeko di injury-time babak kedua serta euforia yang sama mengingatkan kita pada laga perdana Serie A musim 2018/2019 vs Torino di Turin, di mana kala itu AS Roma yang mentok oleh Torino, terselamatkan oleh gol legenda Bosnia tersebut.

Namun selepas laga perdana vs Torino, ternyata itu adalah indikasi bahwa permainan AS Roma sudah terbaca lawan-lawannya di Serie A: cukup menempatkan semua pemain di area pertahanan, kemudian menyerang melalui couter-attack para striker berkaki kijang dengan memanfaatkan lambatnya lari Fazio ataupun Jesus.

Moga-moga gol telat ini bukan indikator hasil liga yang sama seperti musim lalu.

– Gustaf Ardana


One thought on “Bologna 1-2 AS Roma: Gol Telat di Detik-Detik Akhir Laga, Hasil Yang Tidak Adil Bagi Bologna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s