AS Roma 0-2 Atalanta: Paulo Fonseca Bereksperimen & Bermain-Main dengan Lawan yang Salah, Kepedean?

as-roma-vs-atalanta-2019

Entah apa yang ada di kepala Paulo Fonseca: dia berkali-kali mengubah formasi & taktik dalam 90 menit di sebuah laga berat melawan tim sekuat La Dea.

Baca Analisa Pra-Laga (LIBAS) di sini

Berbeda 180 derajat dengan yang sudah saya analisa pada artikel LIBAS – di mana saya berasumsi bahwa Paulo Fonseca akan menerapkan formasi menyerang menjamu Atalanta di hadapan para pendukung sendiri sehingga laga akan berjalan menarik dan sengit – AS Roma malahan bermain defensif dan jauh dari kata menyerang, dengan Fonseca berulang-ulang kali mengubah formasi dan taktik dalam 90 menit laga berlangsung.

Menghadapi AS Roma di Stadio Olimpico, tim Atalanta asuhan Gianpiero Gasperini memang bermain terbuka dan menyerang – sesuai prediksi saya – dengan melakukan pressing ketat dan ball-possesion yang sangat baik.

Namun alih-alih menerapkan strategi menyerang dengan ball-possession tinggi (yang katanya a la Fonseca) yang akan membuat laga vs Atalanta menarik (karena pertempuran 2 pelatih yang sama-sama berkarakter menyerang), Giallorossi malah bermain seperti anak kecil yang baru belajar bermain sepakbola: sering kali salah umpan, malas bergerak, kurang koordinasi, seakan takut menghadapi lawan yang kuat.

Jika pembaca kebetulan melewatkan laga ini (ga apa-apa sih karena permainan AS Roma sangat mengecewakan dan aneh), berikut ini adalah highlight pertandingan AS Roma vs Atalanta 0-2:

Sepanjang 15 menit awal babak pertama berjalan, Paulo Fonseca menerapkan sebuah formasi aneh 4-2-3-1 di mana Alessandro Florenzi dipasang sebagai pure-winger kanan, sedangkan Nicolo Zaniolo diplot sebagai pure-winger kiri.

Padahal, selama ini pola permainan AS Roma (baik di bawah asuhan Di Francesco, Claudio Ranieri, ataupun Fonseca sendiri), selalu menggunakan inverted-winger untuk posisi penyerang sayap: inverted-winger adalah penyerang dengan dominan kaki-kiri dipasang di sayap kanan (ataupun sebaliknya) agar sang inverted-winger bisa menggiring bola, menusuk ke kotak penalti lawan, kemudian melakukan shooting dengan kaki dominannya.

Inverted-winger pada dasarnya lebih berkarakter striker karena kemungkinannya untuk melakukan shooting ataupun tusukan ke dalam kotak penalti sangat tinggi, hampir menyamai striker murni.

Sedangkan pure-winger pada dasarnya adalah seorang gelandang yang – oleh karena kaki dominannya berada di sisi luar lapangan – maka akan cenderung untuk menyisir sisi lapangan untuk melakukan crossing, dibandingkan melakukan tusukan ke dalam kotak penalti.

Skema pure-winger akan membuat permainan AS Roma lebih defensif, dengan Edin Dzeko harus berjibaku sendiri menjadi seorang lone-striker (striker kesepian tunggal) di area pertahanan Atalanta.

Namun tiba-tiba, setelah laga baru memasuki menit ke-16, formasi langsung berubah dengan Spinazzola (yang awalnya menjadi bek sayap kanan) menjadi bek sayap kiri, Florenzi ditarik mundur menjadi posisi biasanya sebagai bek sayap kanan, serta Aleksandar Kolarov ditarik mundur ke jantung pertahanan.

Hal itu membuat bek tengah menjadi 3 orang: Smalling-Federico Fazio-Kolarov dan otomatis membuat permainan Giallorossi semakin defensif!

Perubahan skema menjadi 5-3-2 membuat sektor kiri lini serang menjadi kosong (unoccupied), alhasil lini serang Giallorossi menjadi jomplang, karena Zaniolo dikembalikan ke posisi inverted-winger kanan, Edin Dzeko lebih sering berkutat di sisi tengah, sedangkan sisi kiri kosong tidak ada penyerang yang secara natural menempati posisi tersebut.

Pada laga ini, hanya pemain belakang Giallorossi yang bermain cukup baik: debut Smalling menurut saya cukup apik, dengan sang pemain pinjaman dari Manchester United terlihat bersemangat dan aktif berkoordinasi dengan para pemain lainnya, baik ketika bertahan maupun ketika Giallorossi mengendalikan bola.

Smalling pun beberapa kali berhasil menyapu bola, melakukan sliding-tackle, dan man-marking dengan baik.

chris-smalling-as-roma

Selain itu, Fazio semakin terlihat matang karena mampu bertandem dengan siapapun secara baik, termasuk dengan Smalling. Kedua bek tengah veteran kaya pengalaman tersebut terlihat langsung tune-in satu sama lainnya.

Apiknya permainan Smalling setidaknya membuat kita bisa bernapas legas karena Fonseca akhirnya memiliki 3 bek tangguh yang bisa dimainkan, sebelum memilih Juan Jesus.

Begitupun Spinazzola yang terlihat baik dalam bertahan, dan sangat aktif membantu penyerangan AS Roma di sisi kiri lapangan: menutupi sektor kiri lini serang yang jomplang semenjak Fonseca mengubah formasi menjadi 5-3-2.

Spinazzola bermain sangat baik, bisa dibilang dialah satu-satunya pemain AS Roma yang terlihat mengancam permainan Atalanta dengan dribble dan tusukannya, menghasilkan setidaknya 3 peluang baik dikarenakan perannya.

Sayangnya, Spinazzola harus ditarik keluar pada menit ke-56 (sepertinya) karena cedera harmstring, digantikan oleh Juan Jesus (oh, God!). Dan 15 menit setelah Jesus masuk ke lapangan, terjadilah gol pemain pengganti Atalanta: striker ganas haul gol, Duvan Zapata.

Gol Zapata tersebut sebenarnya adalah hasil dari kesalahan umpan Jordan Veretout kepada Fazio (yang tiba-tiba menjadi seorang bek sayap kanan dan menyisir terlalu pinggir lapangan akibat perubahan formasi 3 bek Fonseca): umpan Veretout langsung terbaca lawan dan diintersepsi untuk menjadi serangan cepat berbuah gol bagi Zapata.

Memang, lini gelandang AS Roma pada laga ini bermain SANGAT MENGKHAWATIRKAN. Bryan Cristante & Lorenzo Pellegrini bermain tanpa nyawa seperti musim lalu ketika Giallorossi hancur-hancuran di bawah asuhan Di Francesco: Cristante bermain malas, tidak mobile, dan invisible (tidak terasa kehadirannya).

Sedangkan Pellegrini sangat sering melakukan kesalahan first-touch, salah umpan, dan seringkali menjadi eksekutor bola mati yang ampas dan tidak berguna.

Anehnya kenapa trio gelandang Cristante-Veretout-Pellegrini yang bermain buruk tidak ada satupun yang digantikan oleh Amadou Diawara ataupun Marko Antonucci yang juga bisa bermain sebagai penyerang lubang?

Pada 15 menit terakhir laga, Fonseca sepertinya sadar bahwa strategi bertahan, direct pass (umpan jarak jauh langsung ke striker), dengan Dzeko sebagai lone-striker gagal total, kemudian sang allenatore memasukkan Nicola Kalinic untuk berduet dengan Edin Dzeko sehingga lagi-lagi mengubah formasi menjadi 4-4-2!

Hasilnya cukup baik dibandingkan 2 formasi defensif Fonseca sebelumnya, mengingat Kalinic mampu menciptakan setidaknya 2 kali peluang sangat baik untuk menyamakan kedudukan.

Sayangnya penjaga gawang Atalanta bermain apik menghalau bola sepakan Kalinic.

Il Capitano, Florenzi sendiri sebagai kapten tidak mampu mengangkat moral para pemain, malahan sang Kapten malah terkesan melamun dan tidak konsentrasi ketika bertahan ataupun melakukan man-marking, yang hasilnya bisa dilihat pada gol kedua Atalanta berikut ini:

Gol kedua Atalanta pada dasarnya bukanlah sebuah insiden yang terlalu berbahaya, dan seharusnya bola bisa dengan mudah disapu bersih menjauh dari gawang Pau Lopez: namun sayangnya Florenzi lagi-lagi dan kembali lagi tidak mampu melakukan man-marking ataupun berduel udara dengan pemain lawan. Terutama dalam skema bola mati seperti itu.

AS Roma 0-2 Atalanta

AS Roma tidak bisa beralasan stamina drop karena jadwal yang padat, karena Atalanta pun sama-sama menjalani laga yang padat baik di Serie A maupun Liga Champions. Dan juga Fonseca sebenarnya memiliki berbagai opsi pemain yang berkualitas baik, terutama di sektor gelandang dengan Amadou Diawara dan Mirko Antonucci dijamin dalam kondisi fisik prima karena jarang dimainkan.

Atau…

Bisa juga ini adalah sebuah karma instan bagi AS Roma: yang berhasil memenangkan laga vs Bologna di detik-detik akhir laga, walaupun sebenarnya Giallorossi tidak terlalu layak mendapatkan kemenangan dramatis tersebut (baca artikel ANTIK vs Bologna di sini).

Kesimpulan
Entah apa yang ada di kepala dan pikiran Paulo Fonseca.

Pada sebuah pertandingan yang diadakan di kandang sendiri dan dengan dukungan penuh tifosi Roma, Fonseca malah memasang formasi bertahan dan terkesan cenderung bermain-main dengan lawan yang salah.

Lawan sekuat dan setangguh La Dea bukanlah tim yang tepat untuk bereksperimen melakukan berbagai macam formasi dan taktik.

Memang, Atalanta minggu lalu kalah 4-0 melawan Dinamo Zagreb kala tandang ke Kroasia di laga Liga Champions, namun itu bukanlah berarti Atalanta adalah sebuah tim lemah yang mudah dipecundangi.

Atau malahan Fonseca sebenarnya sangat takut menghadapi ganasnya Atalanta, sehingga memilih untuk banting setir menggunakan strategi bertahan total dengan mengandalkan direct-pass langsung dari lini pertahanan ke lini depan?

Apapun itu, semoga Fonseca bisa belajar banyak dari kekalahan pertama Roma musim ini, dan tidak mengulangi kebodohan dan keangkuhannya di giornata Roma selanjutnya!

– Gustaf Ardana


One thought on “AS Roma 0-2 Atalanta: Paulo Fonseca Bereksperimen & Bermain-Main dengan Lawan yang Salah, Kepedean?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s