Kenapa Ibukota Negara Republik Indonesia Harus Pindah Dari Jakarta?

Di salah satu diskusi hangat, terjadi sedikit pembicaraan bahwa pemerintah sedang menganggarkan dana senilai Rp 1.000 Triliun sebagai stimulus ekonomi untuk penanggulanan virus Corona. Hal itu memicu diskusi apakah ibukota Republik Indonesia yang juga memakan anggaran besar, tetap harus berlanjut?

Menurut saya, ibukota harus pindah karena densitas populasi di pulau Jawa sudah sangat tinggi. Pernah melihat peta densitas populasi di Indonesia?

Kita diskusi ya, apa efeknya untuk ekonomi rakyat apabila densitas populasi di suatu area terlalu tinggi.

Menurut dari apa yang saya tahu, apabila densitas populasi di suatu area terlalu tinggi, efeknya kurang lebih seperti ini. Harap dikoreksi apabila ada yang dirasa misleading.

Ketika jumlah penduduk besar, maka demand untuk consuming goods menjadi tinggi. Maka akan terjadi inflasi harga dan indeks harga konsumen akan tinggi untuk barang-barang kebutuhan pokok.

Itulah mengapa inflasi di Jakarta dan pulau Jawa selalu lebih tinggi daripada luar Jawa. Karena demand yang sangat tinggi, akhirnya sesuai prinsip supply-demand: ketika suplai tetap tapi demand tinggi, maka harga akan meningkat.

Hal itu disebabkan suplai barang dan bahan makanan yang terbatas, tapi yang mau beli banyak.

Semakin buruk, apabila bahan makanan itu diproduksi di luar Jawa, misalnya dari bahan makanan yang diproduksi dari kebun di Sumatra atau Kalimantan. Bahan makanan yang berasal dari luar Jawa, akan lebih banyak didistribusikan ke Jakarta. Sehingga harganya akan semakin meningkat, karena ada cost transportasi di sana yang harus dibayar pebisnis.

Sedangkan bagi orang luar Jawa yang ingin mengonsumsi bahan pokok tersebut, mereka harus membeli barang dengan standar harga yang sama dengan di Jakarta. Karena apabila harga beli di luar Jawa lebih murah daripada Jakarta, maka produsen dan pebisnis tidak akan bersedia menjual komoditasnya di daerah. Untuk apa menjual di daerah, apabila harga jual di Jakarta bisa mendapatkan harga dan cuan yang lebih tinggi.

Padahal apabila densitas populasi bisa merata di seluruh indonesia, maka bahan makanan dari luar Jawa tidak perlu dikirim ke pulau Jawa. Akibatnya orang Sumatra/Kalimantan bisa menikmati bahan makanan yang ditanam di tanah dan kebun mereka dengan harga yang murah. Kemudian orang Jakarta pun bisa menikmati harga bahan makanan lebih murah karena populasinya seimbang dengan suplai bahan pokok.

Hal yang sama terjadi dengan komoditas tanah dan rumah. Malah lebih parah efeknya, karena impian memiliki properti terkadang adalah impian yang dipaksakan para keluarga muda yang baru membangun rumah tangga, mungkin karena terlalu sering terekspos oleh iklan-iklan para pebisnis di industri properti maupun perbankan.

Harga properti tinggi ini disebabkan karena,

  1. Suplai tanah yang selalu tetap (tidak mungkin kan tanah bisa melar)
  2. Karena demand dan densitas populasi tinggi di suatu area
  3. Disebabkan juga karena harga produksi bahan bangunan yang tinggi, contohnya untuk semen, kebanyakan pabrik semen ada di Sumatra dan Sulawesi sehingga butuh cost distribusi yang tidak murah

Apakah ada yang pernah merasa sangat berat menjalani cicilan rumah?

Karena harga rumah yang meroket tinggi, sedangkan kemampuan daya beli rekan-rekan masih kurang. Sedangkan banyak orang yang ngebet untuk mencicil rumah karena mereka merasa bahwa itu impian semua orang.

Idealnya, DP (down payment) rumah adalah di kisaran 30%-50% dari harga rumah, namun banyak yang memaksakan diri, baru bisa mengumpulkan 5-10% DP tapi memaksakan beli rumah.

Akibatnya, mereka bersedia untuk mengambil rumah yang lokasinya sangat jauh di pinggiran kota, dengan tenor yang tinggi agar biaya cicilan bulanan menjadi terjangkau – walaupun bunga yang dibayar akan sangat tinggi. Belum lagi ketika ada floating interest.

Lalu, waktu untuk keluarga menjadi habis karena rumah yang jauh dan membutuhkan waktu total PP (pulang pergi) 3-5 jam sehari hanya untuk mobilitas. Otomatis ongkos bensin dan transportasi juga membengkak.

Dan secara psikologi massa, juga membentuk karakter penduduk yang emosional, egois, dan mau menang sendiri di jalanan karena sudah lelah di perjalanan harian yang panjang.

Kemudian karena tenor yang tinggi, maka bunga akan tinggi. Pernah merasa udah capai membayar cicilan, tapi pokok pinjaman masih segitu-gitu saja?

Itu karena tenor yang semakin tinggi, memang cicilan bulanan menjadi terjangkau. Namun ternyata, hampir 60%-80% porsi cicilan yang dibayarkan adalah untuk membayar bunga!

Mencicil lewat skema shariah pun sama saja beratnya, karena harga beli di awal sudah dipatok sangat tinggi, mencapai 2-3x lipat harga properti pada saat transaksi terjadi.

Akhirnya untuk menjaga cashflow dan keuangan pribadi keluarga, banyak working-class people yang harus tergantung pada perusahaan/instansi pemerintah untuk bertahan hidup karena ada cicilan berat. Boro-boro bisa menabung untuk cashflow cadangan di saat darurat.

Itu adalah salah satu efek dari densitas populasi yang terlalu padat.

Terakhir, populasi manusia tumbuh dalam bentuk grafik eksponensial (2 pangkat n). Jadi tumbuhnya bukan 2, 4, 6, 8, 10, 12.

Melainkan dari 2 orang suami istri, misal punya anak 2 orang. Anaknya 2 orang punya anak 2, dst. Berarti polanya 2, 4, 8, 16, 32, 64, 128, dst. Itu apabila menghitung satu keluarga hanya memiliki 2 orang anak.

Jadi populasi manusia bakal terus tumbuh secara eksponensial, namun sumber daya bumi terbatas. Semakin buruk apabila populasi suatu negara terfokus hanya di suatu area.

Apabila densitas populasi suatu area terus tinggi, tanpa ada usaha untuk memindahkan konsentrasi penduduk, yang kasihan bukanlah generasi kita. Melainkan anak cucu kita. Mereka bakal hidup dalam kompetisi yang sangat ketat. Akhirnya yang lemah akan kalah. Tapi yang menang, seringkali yang opportunis. Akhirnya mentalitas penduduk akan menjadi materialis.

Bagi yang pernah berkunjung ke pusat kota Jakarta, Bandung, dan kota besar lainnya di pulau Jawa, akan tahu bahwa sangat banyak area gang-gang kecil (gang senggol) tempat orang-orang tinggal berdesak-desakan dengan standar kesehatan dan kehidupan yang akan membuat shock penduduk dari negara maju.

Di Kalimantan atau Papua, tidak ada tempat tinggal penduduk dalam gang kecil, karena tanah mereka masih luas untuk membangun rumah dengan biaya yang rendah, karena densitas populasi di pulau-pulau tersebut tidak sepadat Jawa.

Omong-omong, saya jadi kepikiran. Wabah penyakit pun bisa dibilang adalah salah satu siklus natural Bumi demi menjaga dan menekan densitas populasi penduduk, agar daya dukung bumi & lingkungan selalu seimbang.

Malah di abad-abad sebelumnya, suatu wabah penyakit pasti mengambil nyawa puluhan juta penderita yang meninggal.

Sumber : https://visualcapitalist.com/history-of-pandemics-deadliest

Wabah penyakit yang memakan korban jiwa terbesar adalah wabah Black Death di Eropa pada abad ke-14, mematikan 200 juta nyawa manusia. Tapi setelah wabah Black Death selesai, terjadi periode Renaissance yang menjadi kebangkitan orang-orang Eropa di bidang teknologi, arsitektur, seni, dan ekonomi.

Apakah sebuah pandemi akan melahirkan tatanan dunia baru? Adakah suatu organisasi rahasia di bumi ini yang memang mengagendakan ini semua? Atau apakah ini sudah menjadi siklus alami bumi untuk mempertahankan eksistensi kehidupan yang ada di dalamnya agar tetap terjaga?

Secara teori ya, ketika populasi penduduk anjlok, maka suplai dan demand akan lebih seimbang. Orang-orang yang bertahan (yang notabene orang-orang “strong” karena hasil seleksi alam) akan mendapatkan resource/sumber daya yang berkali-kali lipat dibandingkan sebelum terjadi wabah.

Hal itu membuat para manusia strong hasil seleksi alam bisa memaksimalkan sumber daya yang ada dengan seoptimal mungkin. Contohnya setelah periode Renaissance, terjadi kebangkitan bangsa Eropa yang pada akhirnya menguasai dunia. Ingat, Amerika dibangun dari nol oleh imigran dari Eropa. Mayoritas seluruh negara dunia adalah bekas jajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda), atau sedang/masih dijajah bangsa-bangsa Eropa hingga saat ini (contoh negara-negara persemakmuran Inggris).

Mengenai adakah suatu organisasi rahasia yang memang mengagendakan ini semua? Sampai abad ke-19, sepertinya tidak ada organisasi pengendali, menurut saya, hal ini adalah siklus alami bumi. Kecuali mungkin di masa-masa modern (sekitar 1 abad terakhir), ya bisa jadi dari 10 wabah, mungkin 2 atau 3 wabah adalah buatan manusia, baik hasil coba-coba/eksperimentasi ilmiah, maupun memang implementasi sesungguhnya.

Wabah penyakit pada era modern menjadi semakin buruk karena berkembangnya teknologi transportasi canggih seperti pesawat, kereta, mobil pengangkut massa, dll. Contohnya, Covid-19 mungkin hanya akan menjadi epidemi lokal di Wuhan pada 1 abad yang lalu (tidak akan menyebar secara global) karena masih terbatasnya moda transportasi yang bisa mengangkut orang secara massal.

– Gustaf Ardana


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s