2 Alasan Kenapa Jangan Berinvestasi di Saham Bank BRI (BBRI) pada Tahun 2020!

Dislaimer: analisa ini adalah hasil opini pribadi, bisa benar maupun salah, so harap gunakan hanya sebagai bahan pertimbangan rekan-rekan saja.

Bagi para investor pasar modal Indonesia, siapa yang tidak tahu saham Bank BRI (BBRI)? Saham BBRI adalah saham Buku IV yang paling digemari dan dicintai para investor pasar modal Indonesia – selain Bank BCA (BBCA) tentunya.

Bahkan sebenarnya, apabila kita membandingkan paramater fundamental kedua bank tersebut, net income BBRI lebih baik daripada BBCA. Laba bersih (net income) BBRI pada tahun 2019 berada di kisaran Rp 8-9 triliun per kuartal, sedangkan laba bersih BBCA pada tahun 2019 ‘hanya’ berada di kisaran Rp 6-7 triliun per kuartal – padahal BCA memiliki aset dan kapitalisasi pasar (market caps) yang jauh di atas BRI.

Kemampuan mencetak laba yang sangat baik membuat BRI memiliki parameter PER (Price Earning Ratio) yang jauh lebih baik daripada BCA, yaitu dengan rasio PER 10 sedangkan BCA memiliki PER 24 (data dari Stockbit as per awal bulan April 2020).

Namun, semua berubah ketika negara Corona menyerang…

Menyebarnya virus Corona menjadi pandemi dunia benar-benar mengubah segalanya: mengubah gaya hidup masyarakat menjadi lebih “sehat”, membuat para pekerja menjadi lebih familiar dengan konsep “working-from-home”, mengurangi kecenderungan orang-orang dalam konsumsi gaya hidup, dan terutama di aspek ekonomi: membuat kekacauan dan chaos yang bisa dibilang merupakan salah satu kekacauan ekonomi terburuk sepanjang sejarah manusia era modern.

2 Alasan Kenapa Jangan Berinvestasi di Saham Bank BRI (BBRI) pada Tahun 2020!

Mari kita simak 2 alasan utama kenapa pada tahun 2020 ini, para investor pasar modal sebaiknya HINDARI berinvestasi dahulu pada saham Bank BRI (BBRI) di bursa efek Indonesia:

  1. Porsi Penyaluran Kredit Mikro & UKM (Usaha Kecil Menengah) BBRI yang Sangat Tinggi

Yuk sebagai perbandingan, mari kita lihat bagaimana porsi penyaluran kredit perbankan dari 3 bank Buku IV yaitu BCA, BNI, dan BRI (data diperoleh dari channel Youtube Kevas Efander (https://www.youtube.com/channel/UCt7t7335PBIy2cAuZ9hriyw):

Porsi Penyaluran Kredit Bank BCA (BBCA):

Porsi Penyaluran Kredit Bank BNI (BBNI):

Porsi Penyaluran Kredit Bank BRI (BBRI):

Berikut ini adalah ringkasan dari porsi penyaluran kredit Bank BCA, BNI, dan BRI berdasarkan laporan keuangan Kuartal-4 Tahun 2019:

Bank BCA (BBCA)
Korporasi: 39%
Konsumer (kartu kredit dll.): 26%
Usaha Kecil Menengah (UKM): 34%
Usaha Mikro: –

Bank BNI (BBNI)
Korporasi: 52%
Konsumer (kartu kredit dll.): 16%
Usaha Kecil Menengah (UKM): 27%
Usaha Mikro: –

Bank BRI (BBRI)
Korporasi: 22%
Konsumer (kartu kredit dll.): 16%
Usaha Kecil Menengah (UKM): 25%
Usaha Mikro: 36%

Berdasarkan data ringkasan tersebut, bisa kita lihat bahwa kombinasi penyaluran kredit Bank BRI untuk usaha Mikro & Usaha Kecil Menengah (UKM) adalah = 25% + 36% = 61% !!! Sebuah porsi penyaluran usaha UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) yang sangat besar.

Sedangkan Bank BCA dan BNI memiliki porsi penyaluran kredit yang lebih banyak disalurkan pada korporasi besar.

Pada kekacauan ekonomi akibat virus Covid-19, sektor usaha yang paling terdampak adalah sektor usaha UMKM. Kenapa? Karena menurunnya daya beli konsumen yang disebabkan banyak perusahaan yang stop beroperasi normal, diberlakukannya kebijakan social distancing (menjaga jarak aman), working-from-home (bekerja dari rumah), dan bahkan lockdown (pelarangan akses keluar-masuk daerah) bagi beberapa negara.

Kita lihat saja kenyataan di lapangan, sudah banyak pusat perbelanjaan, pasar, warung/restoran, dan toko-toko usaha non-bahan pokok yang menutup atau menghentikan sementara operasional usahanya.

Tentunya, hal tersebut bisa membuat para pelaku usaha tidak memiliki perputaran uang yang normal, sehingga sangat berpotensi terjadinya Non-Performing Loan (NPL) yang akan mengikis laba perusahaan perbankan, apalagi mengingat para pemilik usaha UMKM di Indonesia masih banyak yang belum memahami manajemen keuangan usaha dengan baik (catatan: ini opini saya pribadi yang belum didukung data).

2. Walaupun Sama-sama Terkena Krisis, Korporasi Besar Akan Berada pada Posisi yang Lebih Menguntungkan Ketimbang UMKM

Pada saat kekacauan ekonomi akibat virus Covid-19, yang paling terpukul adalah bisnis mikro dan UKM.

Bagi para korporasi besar, mereka bisa membayar utang kredit perbankan menggunakan:

(1) Uang kas alias uang dingin perusahaan (makanya penting juga bagi para investor untuk mengamati rasio Price-to-Free-Cashflow suatu perusahaan sebagai bagian dari analisa fundamental)

(2) Mengajukan keringanan kredit maupun cuti kredit pada bank maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

(3) Dana kebijakan fiskal maupun Quantitave Easing (QE) yang dikeluarkan pemerintah pun akan dinikmati oleh korporasi besar terlebih dahulu, baru dirasakan oleh sektor usaha UMKM. Karena suatu korporasi besar memiliki perputaran uang dan jumlah karyawan yang jauh lebih banyak, sehingga apabila tidak terlebih dahulu diulurkan bantuan, maka akan berimbas besar pada roda perekonomian negara dan kondisi keuangan masyarakat.

Kedua alasan tersebut membuat resiko Non-Performing Loan (NPL) dari Bank BCA dan BNI tidak sebesar resiko NPL dari Bank BRI (tentu khusus merujuk pada case krisis Covid-19 tahun ini, karena setiap krisis memiliki behavior yang berbeda-beda).

Berbicara laba, Bank BRI memiliki laba bersih (net income) sekitar Rp 8 Triliun per kuartal (atau 32 Triliun per tahun). Jadi apabila kita asumsikan bahwa BRI sangat terpukul pada Kuartal-1 dan Kuartal-2 2020, maka BRI terancam kehilangan laba bersih dari sektor kredit UMKM sebesar:

Laba Bersih per Kuartal : Rp 8 Triliun
Dikali 2 Kuartal : Rp 16 Triliun

Porsi Penyaluran Kredit UMKM Bank BRI : 60%

Potensi Kehilangan Laba Bersih : Rp 16 Triliun x 60% = sekitar 10 triliun (untuk 2 kuartal).

Jadi pada tahun 2020, Bank BRI terancam kehilangan laba bersih senilai Rp 10 Triliun selama semester 1 2020.

Itu dengan asumsi bahwa pada Kuartal-3 2020, ekonomi mikro udah membaik seiring dengan pulihnya ancaman kesehatan dunia dari virus Covid-19. Namun apabila virus Covid-19 masih belum teratasi pada semester-2 tahun ini, maka potensi kerugian Bank BRI bertambah lagi Rp 5 Triliun per kuartal hanya dari sektor penyaluran kredit UMKM 😅

Itulah kenapa belakangan ini di indeks pasar modal, saya melihat BBRI terlihat susah payah untuk menggenjot naik harga sahamnya. Bahkan sudah banyak investor asing yang kabur dan melepas saham BBRI.

Sebagai kesimpulan analisa ini, saya merekomendasikan para investor pasar modal agar menghindari dulu berinvestasi pada saham BBRI. Pada tahun 2020, lebih baik memilih saham BMRI maupun BBNI apabila ingin berinvestasi pada sektor perbankan.

Namun bukan berarti, berinvestasi di sektor perbankan harus dihindari secara penuh. Ingat, sektor perbankan adalah sektor yang paling pertama akan pulih dari setiap krisis ekonomi yang terjadi (selama cryptocurrency dan blockchain belum menguasai perekonomian dunia).

– Gustaf Ardana


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s