Akankah Ekonomi Indonesia Pulih dengan Segera Paska Pandemi Covid-19?

Jangan cepat terkecoh dengan kenaikan harga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sebulan terakhir: Covid-19 vs Ekonomi Indonesia!

Jangan lengah.

Reli kenaikan indeks saham beberapa minggu belakangan belum menjadi indikator yang pasti bahwa “the bottom is over”.

Bursa saham adalah sekadar indikator mengenai apa yang investor pikirkan saat ini mengenai apa yang akan terjadi di masa depan. Banyak investor berpikir bahwa bursa saham dan ekonomi akan segera pulih dengan cepat, karena waktu itu bursa saham pun turun dengan sangat cepat (dalam bentuk waterfall curve).

Namun sayangnya, imbas Covid-19 terhadap ekonomi sepertinya tidak akan pulih secepat kita mampu berkedip. Dan mungkin akan banyak pula perubahan customer behavior yang terjadi paska Covid-19 usai.

Hampir setiap industri akan terimbas secara signifikan, bukan oleh wabah virusnya, namun karena berbagai aturan social-distancing demi menurunkan tingkat penyebaran Covid-19 (namun jangan salah paham, kami mendukung kebijakan pemerintah untuk melakukan penjagaan jarak dan lain-lainnya).

Ribuan usaha dan bisnis, baik besar maupun kecil, berada di ujung tanduk dengan menurunnya pendapatan, perputaran uang dan arus kas yang berkurang dengan drastis.

Salah satu harapan bagi sektor usaha agar dapat bertahan di tengah ekonomi sulit seperti ini adalah suntikan “bailout” alias suntikan dana bantuan dari pemerintah dalam bentuk tunai, kredit, maupun berbagai relaksasi.

Namun sayangnya, tentu pemerintah tidak akan memiliki modal yang cukup untuk menyuntikkan bailout pada semua pihak atau sektor usaha.

Agar bisa melakukan bailout, Bank Indonesia (BI) harus mencetak uang baru sebanyak mungkin yang dibutuhkan, dan anggota DPR agar menyetujui berbagai macam paket stimulus – namun melakukan hal seperti itu akan menurunkan nilai intrinsik mata uang Rupiah.

Turunnya nilai mata uang karena terlalu banyak uang yang beredar dikenal dengan istilah pajak inflasi atau seigniorage.

Misalnya, total uang Rupiah yang beredar di seluruh negeri sebelumnya adalah Rp 10.000 Triliun (misalkan). Dan kita punya uang Rp 10 juta di tabungan.

Kemudian, demi kebijakan fiskal atau Quantitative Easing (QE), Bank Indonesia mencetak uang baru sejumlah Rp 2.000 Triliun. Berarti saat ini, total uang Rupiah yang beredar di seluruh negara menjadi Rp 12.000 Triliun.

Maka, nilai tabungan kita secara fisik memang masih terlihat seperti uang Rp 10 juta. Namun, nilai intrinsiknya berkurang menjadi hanya Rp 8 juta, karena uang yang beredar lebih banyak sehingga menurunkan nilai intrinsik uang Rupiah.

Penurunan nilai intrinsik Rupiah akan membuat berbagai harga barang kebutuhan masyarakat menjadi mahal dan melesat tinggi, selain itu pun akan membuat kurs Rupiah melemah atas mata uang asing sehingga menyulitkan sektor usaha yang berbasis ekspor dan terutama impor.

Maka para ekonom harus melihat dulu dalam beberapa bulan ini, bagaimana performa nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing, terutama terhadap US Dollar sebelum para ekonom bisa menentukan seberapa buruk ekonomi terhantam.

Apabila sepanjang tahun ini nilai tukar Rupiah bisa bertahan di bawah Rp 16.000,- maka ekonomi Indonesia masih bisa pulih agak lebih cepat. Apalagi jika nilai tukar Rupiah bisa menembus level di bawah Rp 15.000 bahkan kembali ke level Rp 13.000-an.

Dari sisi konsumen, tingkat permintaan (demand) customer dan tingkah laku (customer behavior) mungkin akan banyak berubah secara dramatis untuk jangka waktu yang panjang. Para marketer pun mungkin harus merombak ulang konsep pemasaran mereka di masa depan.

Contohnya, orang-orang mungkin masih akan takut untuk memasuki area publik, terutama yang memiliki banyak kerumunan seperti pertandingan olahraga, konser, bioskop, dan tentu saja restoran.

Lalu barangkali orang-orang akan berpikir ulang untuk naik pesawat atau kendaraan umum, khawatir kala bernafas di ruang udara yang sama dengan orang-orang asing selama berjam-jam.

Contohnya di Wuhan, walaupun kebijakan lockdown sudah dicabut dan orang-orang secara perlahan mulai beraktivitas kembali dan berusaha terlihat normal, usaha restoran masih sulit bangkit karena tidak ada seorang pelanggan pun yang ingin duduk dan makan di dalam restoran.

Perubahan tingkah laku pelanggan akan terus terjadi hingga vaksin Covid-19 yang ampuh bisa diproduksi secara massal.

Sayangnya, vaksin Covid-19 kabarnya baru bisa diproduksi pada tahun 2022, atau bahkan lebih lama lagi – dan akan memakan waktu yang lebih panjang lagi untuk memproduksi vaksin secara massal sejumlah ratusan juta vaksin untuk disuntikkan pada seluruh penduduk dunia.

Di luar itu semua, masyarakat terutama golongan kelas menengah akan menyadari betapa pentingnya memiliki tabungan yang cukup untuk saat-saat yang sulit. Dan mengeluarkan uang lebih sedikit untuk konsumsi dan pengeluaran gaya hidup.

Konsekuensinya, berbagai usaha berbasis konsumsi maupun lifestyle akan mengalami era yang lebih sulit dalam meyakinkan pelanggan untuk membelanjakan uang yang susah-payah mereka kumpulkan demi membeli produk yang mereka pasarkan.

Mempertimbangkan bahwa sektor konsumsi memberikan kontribusi sebesar 56,8% atas Pendapatan Domestik Bruto (GDP) Indonesia, maka perubahan customer behavior semacam itu tentu akan cukup memukul ekonomi Indonesia di masa depan dan memiliki efek domino yang berkelanjutan atas sektor industri lainnya di luar sektor konsumsi (https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/05/06/konsumsi-rumah-tangga-menyumbang-5682-pdb).

Saat ini, pandemi Covid-19 belum berakhir dan masih menunjukkan kurva eksponensial atas jumlah kasus penderita anyar. Sulit memprediksi kapan pandemi ini akan berakhir. Akibatnya lebih sulit lagi untuk mengetahui seberapa parah ekonomi akan terimbas, apabila pandeminya sendiri belum bisa teratasi.

Namun yang pasti adalah: customer behavior sepertinya tidak akan kembali seperti sedia kala.

Akankah?

– Gustaf Ardana


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s