3 Jejak Historis Sebagai Refleksi Bahwa Kenaikan Bursa Pasar Modal Saat Ini Adalah BULL-TRAP

The investing market is a device for transferring money from the impatient to the patient.

Warren Buffet

Dalam 1 bulan terakhir, tepatnya dimulai pada akhir bulan Maret 2020 hingga akhir April 2020 (saat tulisan ini dibuat), periode bull-trap bursa pasar modal global dan IHSG sepertinya telah resmi dimulai.

Seperti yang kita tahu, sepanjang awal tahun 2020 hingga minggu ke-3 Maret 2020, bursa pasar modal global dan IHSG mengalami penurunan yang sangat signifikan.

IHSG bahkan mengalami penurunan harga yang signifikan hingga 40%, yang mencapai “fake-bottom” pada level 3.911 (lingkaran biru) di tanggal 24 Maret. Paska mencapai bottom, bursa terlihat rebound dan mengalami fase bullish dan konsolidasi dalam 1 bulan berikutnya.

Fase rebound dari level 3.911 tersebut di-trigger oleh konferensi pers yang dilakukan oleh The Federal Reserve (bank sentral Amerika) bahwa The Fed akan mengeluarkan subsidi kebijakan fiskal dan Quantitative Easing (QE) terbesar sepanjang masa yang pernah dilakukan oleh Amerika Serikat sepanjang sejarah ekonomi negara tersebut. Termasuk suku bunga The Fed yang mendekati 0% yang berarti bahwa semua orang yang ingin meminjam uang dari bank-bank Amerika tidak akan dikenai bunga sama sekali!

Pengumuman The Fed tersebut direspons dengan luar biasa oleh para pelaku pasar modal, sehingga sukses berhasil menghentikan super strong bearish-trend yang menghantam bursa global seluruh dunia sejak pandemi Covid19 menyerang pada awal tahun 2020.

Hal ini menciptakan pertanyaan penting di benak seluruh investor pasar modal dunia: apakah bottom pada krisis “The Great Lockdown” 2020 telah dicapai, dan pasar baru saja memulai periode rebound yang membentuk pola V-shape?

Sebenarnya sangat, amat sulit untuk bisa menjawab pertanyaan semacam itu… That’s a one billion dollar question.

Namun…

Kita bisa memelajari pola 3 crash terbesar sebelumnya yang terjadi dalam 20 tahun terakhir! Yaitu:

  1. Dotcom Bubble Crash (tahun 2000)
  2. Shanghai Composite Index Crash (tahun 2008)
  3. Bitcoin-Crypto Crash (tahun 2018)

Mari kita simak lebih detail mengenai 3 Jejak Historis Bahwa Kenaikan Bursa Pasar Modal Saat Ini Adalah (kemungkinan besar) sebuah BULL-TRAP!

  1. Dotcom Bubble Crash (tahun 2000): fase bull-trap (diwarnai kuning)

Dotcom Bubble Crash terjadi di NASDAQ (bursa Amerika Serikat) pada tahun 2000 paska kenaikan ratusan, bahkan ribuan kali lipat berbagai harga saham perusahaan teknologi Amerika yang menggenjot naik indeks NASDAQ.

Perhatikan grafik bursa NASDAQ di bawah ini (ketika Dotcom Bubble Crash terjadi) yang sudah ditandai dengan lingkaran biru:

Lingkaran-1: Puncak harga tertinggi indeks (all time high) yang menandai awal dari krisis

Lingkaran-2: “Fake bottom” yang menandai awal terjadinya Bull-Trap

Lingkaran-3: Puncak dari Bull-Trap yang menandai awal dari periode penurunan indeks yang masif

Lingkaran-4: Titik bottom yang sesungguhnya, menandakan bahwa periode penurunan masif telah resmi diakhiri. Indeks mulai menanjak naik

Pada Dotcom Bubble Crash, bursa NASDAQ mengalami periode bull-trap (dari Lingkaran-2 ke Lingkaran-3) selama 14 minggu (sekitar 3,5 bulan).

Yang lalu diikuti oleh periode penurunan indeks yang masif selama 2 tahun penuh (September 2000 sampai September 2002). Bursa NASDAQ baru benar-benar mencapai titik bottom sesungguhnya pada September 2002 sebelum rebound.

2. Shanghai Composite Index (SSE) Crash (tahun 2008): fase bull-trap (diwarnai kuning)

Shanghai Composite Index (SSE) Crash terjadi di bursa negara Tiongkok pada tahun 2008, paska kenaikan luar biasa dari bursa saham dan ekonomi Tiongkok pada saat itu. Bayangkan, bursa SSE Tiongkok mengalami kenaikan hingga 6x lipat hanya dalam waktu 2 tahun saja! Luar biasa…

Namun, segalanya yang naik dengan pesat, maka akan turun dengan pesat pula.

Perhatikan grafik bursa SSE di bawah ini (ketika Shanghai Crash terjadi) yang sudah ditandai dengan lingkaran biru:

Lingkaran-1: Puncak harga tertinggi indeks (all time high) yang menandai awal dari krisis

Lingkaran-2: “Fake bottom” yang menandai awal terjadinya Bull-Trap

Lingkaran-3: Puncak dari Bull-Trap yang menandai awal dari periode penurunan indeks yang masif

Lingkaran-4: Titik bottom yang sesungguhnya, menandakan bahwa periode penurunan masif telah resmi diakhiri. Indeks mulai menanjak naik

Pada Shanghai Crash, bursa SSE Tiongkok mengalami periode bull-trap (dari Lingkaran-2 ke Lingkaran-3) selama 6 minggu (sekitar 1,5 bulan).

Yang lalu diikuti oleh periode penurunan indeks yang masif selama 10 bulan penuh (Januari 2008 sampai November 2008). Bursa NASDAQ baru benar-benar mencapai titik bottom sesungguhnya pada November 2008 sebelum rebound.

3. Bitcoin-Crypto Bubble Crash (tahun 2018): Bull-Trap (diwarnai kuning)

Bitcoin-Crypto Bubble Crash terjadi di bursa Cryptocurrency pada tahun 2018, paska kenaikan luar biasa dari harga Bitcoin dan berbagai Altcoins lainnya pada saat itu. Bayangkan, Bitcoin mengalami kenaikan hingga 100x lipat hanya dalam waktu 2 tahun saja! Luar biasa…

Namun, segalanya yang naik dengan pesat, maka akan turun dengan pesat pula.

Perhatikan grafik Bitcoin (BTC) di bawah ini (ketika Bitcoin-Crypto Bubble Crash terjadi) yang sudah ditandai dengan lingkaran biru:

Lingkaran-1: Puncak harga tertinggi indeks (all time high) yang menandai awal dari krisis

Lingkaran-2: “Fake bottom” yang menandai awal terjadinya Bull-Trap

Lingkaran-3: Puncak dari Bull-Trap yang menandai awal dari periode penurunan indeks yang masif

Lingkaran-4: Titik bottom yang sesungguhnya, menandakan bahwa periode penurunan masif telah resmi diakhiri. Indeks mulai menanjak naik

Pada Bitcoin Bubble Crash, harga BTC mengalami periode bull-trap (dari Lingkaran-2 ke Lingkaran-3) selama 4 minggu (tepat 1 bulan).

Yang lalu diikuti oleh periode penurunan indeks yang masif selama 9 bulan penuh (Maret 2018 sampai Desember 2018). Harga Bitcoin baru benar-benar mencapai titik bottom sesungguhnya pada Desember 2018 sebelum rebound.

Apa yang Dapat Kita Simpulkan dari Jejak Historis Bull-Trap dari 3 Crash Terbesar dalam 20 Tahun Terakhir Tersebut?

Semakin pendek masa periode “bull-trap”, maka periode dipping (penurunan indeks secara masif) hingga mencapai titik bottom sesungguhnya akan semakin pendek. Contohnya pada Shanghai Crash dan Bitcoin Bubble Crash, yang mengalami masa periode bull-trap hanya sekitar 1 bulan –> maka periode dipping hingga mencapai real-bottom hanya 10 bulan, lalu terjadi rebound (kenaikan harga secara jangka panjang).

Sedangkan, semakin lama masa periode “bull-trap”, maka periode dipping (penurunan indeks secara masif) hingga mencapai titik bottom sesungguhnya akan semakin panjang. Contohnya pada Dotcom Bubble Crash, yang mengalami masa periode bull-trap sekitar 3,5 bulan –> maka periode dipping hingga mencapai real-bottom adalah 2 tahun penuh!

Maka, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana dengan nasib IHSG pada 2020 “The Great Lockdown” Crash?? 🤔

Menilik fakta historis dari 3 crash terbesar dalam 20 tahun terakhir, bahwa selalu terjadi “bull-trap” yang diikuti oleh periode dipping (penurunan indeks secara masif), membuat saya pribadi ragu untuk menginvestasikan modal saya ke bursa pada saat ini.

Apalagi tiadanya fundamental ekonomi yang kuat demi mendukung kenaikan harga bursa.

Artinya, pergerakan harga bursa saat ini hanyalah sekadar sentimen pasar belaka (alias kata pepatah: tong kosong, nyaring bunyinya). Orang-orang terlihat heboh dan mengalami euforia ketika bursa mengalami rebound dalam 1 bulan terakhir paska strong bearish trend, namun sebenarnya memiliki fundamental ekonomi yang kosong.

IHSG pada hari Kamis kemarin (30 April 2020) pun berhasil melesat +3% hanya karena adanya sentimen bahwa penelitian obat Remdesivir dari perusahaan Gilead Sciences (katanya) berhasil meringankan gejala pasien Covid19.

Anehnya adalah, di hari yang sama tersebut, Amerika Serikat merilis data tingkat pengangguran AS yang telah mencapai hampir 30 juta orang (tertinggi dalam beberapa dekade terakhir), dengan tingkap GDP (Gross Domestic Product) AS pada kuartal-1 2020 mengalami penurunan -3,5%.

Jadi apa advis dan prediksi teknikal dari IHSG selanjutnya dari kami? Terutama pada bulan Mei ini, yang kental dengan sentimen “Sell on May, and Go Away”?

Topik itu akan kami cover pada artikel kami berikutnya. Stay Tune!

– Gustaf Ardana


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s